Jumat, 16 November 2012


UN dan Pendidikan Karakter
Oleh: Mazhar

Sangat menarik pernyataan Mukhsin - Ketua PGRI Kabupaten Lombok Tengah -menanggapi peningkatan prestasi yang dicapai Kabupaten Lombok Tengah dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Pernyataan Mukhsin yang saya maksud adalah:  “Peningkatan prestasi ini harus dibarengi dengan perbaikan moral siswa dan guru yakni menyangkut kejujuran.”  Lebih lanjut Mukhsin menambahkan “Guru harus menjadi tauladan kejujuran bagi siswa” (Radar Lombok,  Kamis 24 Maret 2011 hal. 6).
Pernyataan Muhksin di atas senada dengan harapan Gubernur  NTB Dr TGH M Zainul Majdi, MA tentang pelaksanaan UN. Beliau mengatakan: “Saya mengharap agar pelaksanaan UN dilaksanakan secara transparan dan jujur.” (Radar Lombok, Kamis 7 April 2011 hal.2).
Harapan ketua PGRI kabupaten Lombok Tengah dan Gubernur NTB di atas sejalan dengan tema UN tahun ini: “Prestasi Yes, Jujur Harus”. Masalahnya adalah mampukah para guru dan sekolah-sekolah melaksanakan UN dengan jujur?
Kecurangan dalam UN kerap muncul ke permukaan. Masih segar dalam ingatan kita ketika 16 orang guru dan seorang kepala sekolah di Kabupaten Deli Serdang ditetapkan sebagai tersangka pelaku kecurangan UN.  Mereka kedapatan membetulkan jawaban soal ujian siswa di sekolahnya. Modusnya adalah seorang guru menjawab soal yang diujikan, selanjutnya para guru bersama-sama membetulkan jawaban siswa di ruang khusus sekolah tersebut setelah UN hari itu selesai (http:// www. kompas. com/ index. php/ read/ xml /2008 / 04/ 24/ 21443699/).
Ada beberapa modus kecurangan dalam UN. Pertama, yang paling sering kita temukan adalah melalui SMS. Walaupun membawa handphone dilarang pada saat pelaksanaan UN tetapi beberapa media melaporkan bahwa modus ini kerap dipakai. Kedua, menggunakan media tissu. Tissu yang sejatinya berfungsi untuk mengelap keringat malah dipakai menulis kunci jawaban lalu dengan mudah diedarkan. Ketiga, meletakkan kunci jawaban di suatu tempat rahasia yang dapat diambil oleh siswa yang sedang izin keluar ruang ujian. Tempat rahasia itu misalnya toilet siswa. Keempat, menulis kunci jawaban di anggota tubuh yang tersembunyi. Kelima, ini yang paling nekat. Guru langsung memberi tahu siswa pada saat pelaksanaan UN berlangsung (http://sultanhabnoer.wordpress.com/2008/04/03/). Keenam, membetulkan jawaban siswa setelah pelaksanaan UN selesai. Ketujuh, lembar soal discan untuk kemudian disebarkan kepada guru-guru yang sudah ditunjuk menjadi anggota tim sukses. Oleh guru tersebut, soal dikerjakan di tempat terpisah. Lalu jawaban dikirim kepada siswa. Kedelapan, lembar soal difax ke pihak lain untuk dikerjakan, lalu jawaban dikirim ke siswa (Lombok Post, Selasa 19 April 2011 hal. 1).   
Modus memberi kunci jawaban kepada siswa sebelum pelaksanaan UN diantisipasi Kemendiknas dengan mengawasi secara ketat proses penyusunan soal, pencetakan soal sampai pada pendistribusian soal. Sedangkan modus memberi kunci jawaban pada saat pelaksanaan UN diantisipasi Kemendiknas dengan membuat lima paket soal di tiap ruang ujian. Tetapi menurut Abduhzen - Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan Pengurus Besar PGRI- pihak sekolah bisa saja mengakalinya dengan cara mengerjakan lima variasi soal tersebut, selanjutnya soal diberikan ke lima siswa yang sudah disiapkan di masing-masing kelas. Lima siswa tersebut menyebar kunci jawaban tadi ke sesama siswa yang satu kode (Lombok Post, Jum’at 15 April 2011 hal. 2).
Perubahan komposisi nilai penentu UN menurut Abduhzen bisa membuat guru atau pihak sekolah semakin nakal. “Kenakalannya ya mempermainkan nilai rapor” tandasnya. Ketika ditanya mengapa pihak sekolah berbuat seperti itu? Abduhzen menjawab bahwa pihak sekolah berkewajiban meluluskan siswanya. Para guru mata pelajaran yang di-UN-kan dalam posisi terjepit. “Idealismenya untuk jujur mendapat tekanan kuat”. Tekanan kepada guru diberikan oleh kepala sekolah. Sedangkan kepala sekolah sendiri juga ditekan oleh kepala daerah. Abduhzen mengatakan rata-rata setiap kepala daerah meminta angka kelulusan berkisar antara 90 hingga 97 persen. Padahal dari hasil penelitian PGRI jika UN dilaksanakan secara sportif dan obyektif, angka kelulusan berkisar antara 40 hingga 50 persen. Angka ini bisa semakin anjlok untuk sekolah-sekolah terpencil. (Lombok Post, Jum’at 15 April 2011 hal. 2).
Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter dicanangkan pemerintah karena keprihatinan kita melihat perilaku siswa-siswa yang sangat jauh dari predikat orang-orang terdidik. Perilaku mereka tidak mencerminkan pendidikan yang telah mereka tempuh. Mulai dengan banyaknya kasus tawuran antar pelajar, demonstrasi anarkis, kasus miras dan narkoba di lingkungan pelajar, pergaulan bebas dan lain-lain yang sangat menyedihkan.
Dengan pendidikan karakter diharapkan siswa menjadi pribadi yang berprilaku baik yang mencerminkan budaya dan karakter bangsa yang bermartabat. Pendidikan karakter ditempuh dengan tiga jalur yaitu: (1) pembelajaran semua mata pelajaran, (2) pengembangan diri, dan (3) budaya sekolah (Balitbang Kemendiknas 2010: 12).
Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter adalah nilai religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komuniktif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab (Balitbang Kemendiknas 2010: 10).
Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter bukanlah bahan ajar. Nilai-nilai tersebut tidak dijadikan sebagai pokok bahasan seperti halnya ketika mengajarkan suatu konsep, teori, prosedur, ataupun fakta seperti dalam mata pelajaran. Materi pelajaran digunakan sebagai bahan atau media untuk mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa. Oleh karena itu, guru tidak perlu mengubah pokok bahasan yang sudah ada, tetapi menggunakan materi pokok bahasan itu untuk mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa.
Melalui pengembangan diri, pendidikan karakter dilakukan dengan cara pengintegrasian ke dalam kegiatan sehari-hari seperti: (1) kegiatan rutin sekolah misalnya: upacara bendera, beribadah bersama, berdo’a setiap memulai dan mengakhiri pelajaran, mengucapkan salam ketika bertemu guru, tenaga kependidikan atau teman dll. (2) kegiatan sepontan seperti: menegur dan memberi peringatan kepada siswa yang membuang sampah sembarangan, berpakaian tidak senonoh, membuat kegaduhan, berkelahi dll. (3) keteladanan yaitu perilaku guru dan tenaga kependidikan dalam memberikan contoh terhadap tindakan-tindakan yang baik misalnya: berpakaian rapi, datang tepat pada waktunya, bekerja keras, bertutur kata sopan, kasih sayang, perhatian terhadap peserta didik, jujur, menjaga kebersihan dll. (4) pengkondisian yaitu mengatur kondisi sekolah agar mencerminkan kehidupan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa, misalnya: toilet yang selalu bersih, bak sampah ada di berbagai tempat dan selalu dibersihkan, sekolah terlihat rapi, alat belajar ditempatkan teratur dll.
Budaya sekolah adalah suasana kehidupan sekolah tempat peserta didik berinteraksi dengan sesamanya, guru dengan guru, konselor dengan sesamanya, pegawai administrasi dengan sesamanya, dan antaranggota kelompok masyarakat sekolah. Kepemimpinan, keteladanan, keramahan, toleransi, kerja keras, disiplin, kepedulian sosial, kepedulian lingkungan, rasa kebangsaan,  dan tanggung jawab merupakan nilai-nilai yang dikembangkan dalam budaya sekolah (Balitbang Kemendiknas 2010: 20).
Berdasarkan uraian di atas, dapat saya simpulkan: (1) masih ada guru-guru atau sekolah-sekolah yang melaksanakan UN secara tidak jujur, (2) salah satu nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter adalah kejujuran. Untuk mengembangkan nilai kejujuran sekolah harus menempuh tiga jalur yaitu pembelajaran di kelas, pengembangan diri dan budaya sekolah. UN merupakan salah satu bentuk pembelajaran di kelas yang kita sebut evaluasi. Melaksanakan UN dengan jujur berarti sekolah telah mengembangkan pendidikan karakter melalui tiga jalur sekaligus. Sebaliknya melaksanakan UN dengan tidak jujur berarti sekolah telah menghianati nilai-nilai pendidikan itu sendiri dan tidak mendukung pendidikan karakter.
Untuk memutus mata rantai kecurangan, kita harus berani mundur satu langkah untuk maju tiga langkah bahkan tak terhingga. Siswa yang memang tidak pantas lulus harus kita katakan tidak lulus. Siswa harus kita beri pencerahan bahwa untuk mencapai kesuksesan harus dilakukan dengan kerja keras, tidak bisa dengan cara-cara instan. Sekolah dan pemerintah daerah harus berani mengambil kebijakan yang tidak populis yaitu lebih mengutamakan kejujuran dari pada target kelulusan yang tinggi tetapi semu. Orang tua siswa juga harus diberi pencerahan bahwa kejujuran jauh lebih penting bagi masa depan anak-anaknya dari pada angka-angka yang tak bermakna karena diperoleh dengan tidak jujur. (***)



BIBLIOGRAFI

Radar Lombok,  Kamis 24 Maret 2011 hal. 6
http:// www. kompas. com/ index. php/ read/ xml /2008 / 04/ 24/ 21443699/
Lombok Post, Selasa 19 April 2011 hal. 1
Balitbang Kemendiknas 2010: 12

Kamis, 23 Februari 2012

MALAM

malam yang dingin
temaram cahaya bulan
lantunan ayat suci terdengar lamat-lamat
deburan ombak seolah takkan pernah berhenti

Minggu, 28 Agustus 2011

UN dan Pendidikan Karakter

UN dan Pendidikan Karakter

Mazhar, M.Pd

Guru Berprestasi KLU 2010

Sangat menarik pernyataan Muhksin - Ketua PGRI Kabupaten Lombok Tengah -menanggapi peningkatan prestasi yang dicapai Kabupaten Lombok Tengah dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Pernyataan Muhksin yang saya maksud adalah: “Peningkatan prestasi ini harus dibarengi dengan perbaikan moral siswa dan guru yakni menyangkut kejujuran.” Lebih lanjut Muhksin menambahkan “Guru harus menjadi tauladan kejujuran bagi siswa” (Radar Lombok, Kamis 24 Maret 2011 hal. 6).

Pernyataan Muhksin di atas senada dengan harapan Gubernur NTB Dr TGH M Zainul Majdi, MA tentang pelaksanaan UN. Beliau mengatakan: “Saya mengharap agar pelaksanaan UN dilaksanakan secara transparan dan jujur.” (Radar Lombok, Kamis 7 April 2011 hal.2).

Harapan ketua PGRI kabupaten Lombok Tengah dan Gubernur NTB di atas sejalan dengan tema UN tahun ini: “Prestasi Yes, Jujur Harus”. Masalahnya adalah mampukah para guru dan sekolah-sekolah melaksanakan UN dengan jujur?

Kecurangan dalam UN kerap muncul ke permukaan. Masih segar dalam ingatan kita ketika 16 orang guru dan seorang kepala sekolah di Kabupaten Deli Serdang ditetapkan sebagai tersangka pelaku kecurangan UN. Mereka kedapatan membetulkan jawaban soal ujian siswa di sekolahnya. Modusnya adalah seorang guru menjawab soal yang diujikan, selanjutnya para guru bersama-sama membetulkan jawaban siswa di ruang khusus sekolah tersebut setelah UN hari itu selesai (http:// www. kompas. com/ index. php/ read/ xml /2008 / 04/ 24/ 21443699/).

Ada beberapa modus kecurangan dalam UN. Pertama, yang paling sering kita temukan adalah melalui SMS. Walaupun membawa handphone dilarang pada saat pelaksanaan UN tetapi beberapa media melaporkan bahwa modus ini kerap dipakai. Kedua, menggunakan media tissu. Tissu yang sejatinya berfungsi untuk mengelap keringat malah dipakai menulis kunci jawaban lalu dengan mudah diedarkan. Ketiga, meletakkan kunci jawaban di suatu tempat rahasia yang dapat diambil oleh siswa yang sedang izin keluar ruang ujian. Tempat rahasia itu misalnya toilet siswa. Keempat, menulis kunci jawaban di anggota tubuh yang tersembunyi. Kelima, ini yang paling nekat. Guru langsung memberi tahu siswa pada saat pelaksanaan UN berlangsung (http://sultanhabnoer.wordpress.com/2008/04/03/). Keenam, membetulkan jawaban siswa setelah pelaksanaan UN selesai. Ketujuh, lembar soal discan untuk kemudian disebarkan kepada guru-guru yang sudah ditunjuk menjadi anggota tim sukses. Oleh guru tersebut, soal dikerjakan di tempat terpisah. Lalu jawaban dikirim kepada siswa. Kedelapan, lembar soal difax ke pihak lain untuk dikerjakan, lalu jawaban dikirim ke siswa (Lombok Post, Selasa 19 April 2011 hal. 1).

Modus memberi kunci jawaban kepada siswa sebelum pelaksanaan UN diantisipasi Kemendiknas dengan mengawasi secara ketat proses penyusunan soal, pencetakan soal sampai pada pendistribusian soal. Sedangkan modus memberi kunci jawaban pada saat pelaksanaan UN diantisipasi Kemendiknas dengan membuat lima paket soal di tiap ruang ujian. Tetapi menurut Abduhzen - Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan Pengurus Besar PGRI- pihak sekolah bisa saja mengakalinya dengan cara mengerjakan lima variasi soal tersebut, selanjutnya soal diberikan ke lima siswa yang sudah disiapkan di masing-masing kelas. Lima siswa tersebut menyebar kunci jawaban tadi ke sesama siswa yang satu kode (Lombok Post, Jum’at 15 April 2011 hal. 2).

Perubahan komposisi nilai penentu UN menurut Abduhzen bisa membuat guru atau pihak sekolah semakin nakal. “Kenakalannya ya mempermainkan nilai rapor” tandasnya. Ketika ditanya mengapa pihak sekolah berbuat seperti itu? Abduhzen menjawab bahwa pihak sekolah berkewajiban meluluskan siswanya. Para guru mata pelajaran yang di-UN-kan dalam posisi terjepit. “Idealismenya untuk jujur mendapat tekanan kuat”. Tekanan kepada guru diberikan oleh kepala sekolah. Sedangkan kepala sekolah sendiri juga ditekan oleh kepala daerah. Abbduhzen mengatakan rata-rata setiap kepala daerah meminta angka kelulusan berkisar antara 90 hingga 97 persen. Padahal dari hasil penelitian PGRI jika UN dilaksanakan secara sportif dan obyektif, angka kelulusan berkisar antara 40 hingga 50 persen. Angka ini bisa semakin anjlok untuk sekolah-sekolah terpencil. (Lombok Post, Jum’at 15 April 2011 hal. 2).

Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter dicanangkan pemerintah karena keprihatinan kita melihat perilaku siswa-siswa yang sangat jauh dari predikat orang-orang terdidik. Perilaku mereka tidak mencerminkan pendidikan yang telah mereka tempuh. Mulai dengan banyaknya kasus tawuran antar pelajar, demonstrasi anarkis, kasus miras dan narkoba di lingkungan pelajar, pergaulan bebas dan lain-lain yang sangat menyedihkan.

Dengan pendidikan karakter diharapkan siswa menjadi pribadi yang berprilaku baik yang mencerminkan budaya dan karakter bangsa yang bermartabat. Pendidikan karakter ditempuh dengan tiga jalur yaitu: (1) pembelajaran semua mata pelajaran, (2) pengembangan diri, dan (3) budaya sekolah (Balitbang Kemendiknas 2010: 12).

Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter adalah nilai religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komuniktif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab (Balitbang Kemendiknas 2010: 10).

Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter bukanlah bahan ajar. Nilai-nilai tersebut tidak dijadikan sebagai pokok bahasan seperti halnya ketika mengajarkan suatu konsep, teori, prosedur, ataupun fakta seperti dalam mata pelajaran. Materi pelajaran digunakan sebagai bahan atau media untuk mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa. Oleh karena itu, guru tidak perlu mengubah pokok bahasan yang sudah ada, tetapi menggunakan materi pokok bahasan itu untuk mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa.

Melalui pengembangan diri, pendidikan karakter dilakukan dengan cara pengintegrasian ke dalam kegiatan sehari-hari seperti: (1) kegiatan rutin sekolah misalnya: upacara bendera, beribadah bersama, berdo’a setiap memulai dan mengakhiri pelajaran, mengucapkan salam ketika bertemu guru, tenaga kependidikan atau teman dll. (2) kegiatan sepontan seperti: menegur dan memberi peringatan kepada siswa yang membuang sampah sembarangan, berpakaian tidak senonoh, membuat kegaduhan, berkelahi dll. (3) keteladanan yaitu perilaku guru dan tenaga kependidikan dalam memberikan contoh terhadap tindakan-tindakan yang baik misalnya: berpakaian rapi, datang tepat pada waktunya, bekerja keras, bertutur kata sopan, kasih sayang, perhatian terhadap peserta didik, jujur, menjaga kebersihan dll. (4) pengkondisian yaitu mengatur kondisi sekolah agar mencerminkan kehidupan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa, misalnya: toilet yang selalu bersih, bak sampah ada di berbagai tempat dan selalu dibersihkan, sekolah terlihat rapi, alat belajar ditempatkan teratur dll.

Budaya sekolah adalah suasana kehidupan sekolah tempat peserta didik berinteraksi dengan sesamanya, guru dengan guru, konselor dengan sesamanya, pegawai administrasi dengan sesamanya, dan antaranggota kelompok masyarakat sekolah. Kepemimpinan, keteladanan, keramahan, toleransi, kerja keras, disiplin, kepedulian sosial, kepedulian lingkungan, rasa kebangsaan, dan tanggung jawab merupakan nilai-nilai yang dikembangkan dalam budaya sekolah (Balitbang Kemendiknas 2010: 20).

Berdasarkan uraian di atas, dapat saya simpulkan: (1) masih ada guru-guru atau sekolah-sekolah yang melaksanakan UN secara tidak jujur, (2) salah satu nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter adalah kejujuran. Untuk mengembangkan nilai kejujuran sekolah harus menempuh tiga jalur yaitu pembelajaran di kelas, pengembangan diri dan budaya sekolah. UN merupakan salah satu bentuk pembelajaran di kelas yang kita sebut evaluasi. Melaksanakan UN dengan jujur berarti sekolah telah mengembangkan pendidikan karakter melalui tiga jalur sekaligus. Sebaliknya melaksanakan UN dengan tidak jujur berarti sekolah telah menghianati nilai-nilai pendidikan itu sendiri dan tidak mendukung pendidikan karakter.

Untuk memutus mata rantai kecurangan, kita harus berani mundur satu langkah untuk maju tiga langkah bahkan tak terhingga. Siswa yang memang tidak pantas lulus harus kita katakan tidak lulus. Siswa harus kita beri pencerahan bahwa untuk mencapai kesuksesan harus dilakukan dengan kerja keras, tidak bisa dengan cara-cara instan. Sekolah dan pemerintah daerah harus berani mengambil kebijakan yang tidak populis yaitu lebih mengutamakan kejujuran dari pada target kelulusan yang tinggi tetapi semu. Orang tua siswa juga harus diberi pencerahan bahwa kejujuran jauh lebih penting bagi masa depan anak-anaknya dari pada angka-angka yang tak bermakna karena diperoleh dengan tidak jujur. Wallahu A’lam.

Kamis, 03 Maret 2011

BERUGAQ

Berugak 1
Imam Safwan


Ya… akhirnya tenggelam aku dalam rimbamu
Mennyusuri gurat pertapaan leluhur
Yang tak dangkal.

Bukan!
Bukan sekedar duduk bersila ia
Bukan sekedar tangan menahan muka
Juga bukan sekadar sepi yang bicara
Tapi hati
hati yang hatihati.

Ya… aku membaca segala rimbamu
Yang ingin mengutara
Lewat apitsaka
Baton
Pasak
Daun ilalang yang menguning
Lewat tiangtiang penyangga
Cerminan iman enam perkara.

Ya… akhirnya aku mulai mengenal tangismu
Tentang para tetamu
Yang membawa berita kursi sofa
yang enggan melepas sepatu
dan enggan bicara masa lalu.

Ya…akhirnya aku menemukan
Sujudmu yang rimba.
Terngiang anakanak mengaji alquran
Amal-amalan jika hendak magrib tiba.

Ya…aku makin tenggelam
Dalam rimbamu yang menangis
Dan ingin mengutara.

Tanjung,rumah sawah 11 Februari 2011.

Berugak 2
Imam Safwan

Disinilah ya disinilah
Ayahku menemui ibuku
di tiap tiang mereka mengukir katakata.

disinilah ya disinilah
kakekku menunaikan kewajibannya
pada adat dan agama
hingga ibu mengenakan kain songket
kembang goyang
dan diputuskan benang basta.

disilah ya disinilah
semua keluarga dan tetangga tertawa
sedang aku menangis melihat dunia yang fana.

Disinilah ya disinilah
Surah yasin tak berhenti dibaca
Ketika kakekku tak lagi bersuara
Tak tagi bisa berbuat apa apa.

Disinilah ya disinilah
Semua bermula
Dan tiada.

Tanjung,rumah sawah 11 Februari 2011.

Minggu, 30 Mei 2010

AKRONIM PASANGAN CALON SEBAGAI SARANA PROPAGANDA YANG EFEKTIF Oleh: Mazhar *)

Akronim menurut KBBI adalah kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar (misalnya mayjen mayor jenderal, rudal peluru kendali, sidak inspeksi mendadak dll) (http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php).
Di era pemilihan langsung kepala daerah strategi kampanye sangat menentukan keberhasilan pasangan calon. Ada banyak sarana kampanye misalnya baliho, stiker, sms dll. Dalam setiap alat peraga kampanye pasangan calon biasanya menyertakan jargon pasangannya yang disertai akronim pasangan calon.
Akronim pasangan calon (selanjutnya disingkat APC) sering digunakan sebagai sarana propaganda secara langsung. APC tak dapat dianggap sepele. APC yang berwujud kosa kata dalam suatu bahasa memiliki kekuatan propaganda yang dahsyat karena mudah dikombinasikan dengan kata-kata yang lain sehingga pesan yang ingin kita sampaikan mudah diterima tanpa harus menyiapkan kertas, lem, tiang pancang, pulsa dan lain sebagainya. Seperti yang dilakukan oleh Jasman dengan mengatakan “Di jona yang subur pemimpin yang arif adalah jaka tingkir”, (Lombok Post, 22 Mei 2010 hal. 13 kol.4). Kalimat ini mengandung akronim yang padu dan elegan.
Propaganda secara langsung melalui APC memiliki beberapa keunggulan, diantaranya : (1) APC cepat hilang setelah diucapkan karena berupa bunyi bahasa. Hal ini memungkinkan semua orang dapat melakukan propaganda. Tak peduli seorang pejabat ataupun PNS. Tanpa harus takut meninggalkan barang bukti kecuali kata-kata tersebut direkam. (2) APC mengandung ambiguitas sehingga seseorang dapat mengelak jika dituduh melakukan propaganda, karena kalimat yang diucapkan adalah wajar. Semua orang bebas mengucapkan kalimat “Kita buat KLU menjadi jona yang aman.” Atau kalimat “KLU adalah daerah yang subur.” Atau “KLU membutuhkan pemimpin yang arif.” Sepintas kalimat-kalimat di atas adalah kalimat biasa saja. Tetapi sesungguhnya kalimat-kalimat tersebut mengandung propaganda. (3) Propaganda dengan menggunakan APC dapat dilakukan dengan halus tanpa harus menyebutkan nama pasangan calon. Seperti yang dilakukan oleh Gubernur NTB ketika berkunjung ke pondok pesantern Al Masyhuiden NW Kawo Pujut Lombok Tengah dengan mengatakan “Kita sering-sering ucapkan salam” (Lombok Post, 21 Mei 2010 hal. 7 kol. 2).
Yang perlu dihindari adalah APC yang bukan merupakan kosa kata dalam suatu bahasa. Ini akan menyebabkan kesulitan dalam mengombinasikannya dengan kata-kata lain untuk membentuk kalimat. Contohnya akronim risa (Lombok Post, 26 Mei 2010 hal.15 kol.3). Untungnya risa sudah terkenal sebagai nama klinik. Wallahu’alam.
*) Guru SDN 4 Sambik Bangkol Kec. Gangga KLU

Rabu, 12 Mei 2010

demo guru di mataram

senin, 3 Mei 2010 terjadi demo besar-besaran di Mataram. demo ini digerakkan PGRI NTB. tuntutan para guru adalah pembatalan pembubaran dirjen PMPTK.

Senin, 16 November 2009

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA KELAS VI SDN 4 SAMBIK BANGKOL DALAM MEMBUAT PETA DENGAN TEKNIK KOORDINAT

I.PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Untuk menjalankan fungsi di atas maka peran guru sangat penting, diantaranya merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Guru perlu menciptakan pembelajaran yang kreatif sehingga anak didik benar-benar mendapat pengalaman belajar yang bermakna. Guru juga harus mampu menciptakan kegiatan pembelajaran yang langsung bersentuhan dengan dunia nyata. Anak didik tidak hanya mendengarkan dan menghapal teori-teori yang abstrak tetapi melakukan kegiatan pembelajaran yang kongkrit. Dengan pembelajaran seperti ini maka pengetahuan dan keterampilan anak akan lebih baik.
Kenyataan di lapangan banyak dijumpai metode yang digunakan guru cenderung monoton. Para guru lebih sering menggunakan metode ceramah. Pembelajaran konvensional (ceramah) untuk mata pelajaran IPS tentu tidak relevan dan akan menimbulkan verbalisme bagi pemahaman anak, tetapi masih banyak guru yang menyukainya. Mereka beralasan metode ini lebih mudah dilaksanakan. Hal ini mengakibatkan anak didik menjadi bosan dan membenci mata pelajaran IPS. Apabila ini terjadi maka jangan heran prestasi anak didik tidak pernah menggembirakan. Ini terbukti dengan perolehan nilai mata pelajaran IPS di setiap UAS selalu rendah.
Untuk mengatasi kebiasaan guru mengajar dengan pendekatan konvensional tersebut, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan sarana termudah untuk meneliti, menyempurnakan, dan mengevaluasi penglolaan pembelajaran. PTK ini mencoba memecahkan masalah yang selama ini dihadapi oleh para guru yaitu bagaimana mengajarkan cara membuat peta teknik koordinat.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam PTK ini adalah bagaimana meningkatkan kemampuan siswa kelas VI SDN 4 Sambik Bangkol dalam menyelesaikan soal peta dengan teknik unjuk kerja.

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan PTK ini adalah upaya meningkatkan kemampuam siswa kelas VI SDN 4 Sambik Bangkol dalam menyelesaikan soal peta buta dengan teknik unjuk kerja.

1.4 Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam PTK ini adalah dengan teknik unjuk kerja dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas VI SDN 4 Sambik Bangkol dalam menyelesaikan soal peta buta.

1.5 Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini akan sangat bermanfaat untuk pengelolaan pembelajaran, khususnya untuk:
a. guru
- dapat menemukan teknik-teknik yang tepat dalam pembelajaran IPS terutama peta buta.
- memiliki gambaran tentang pembelajaran IPS yang efektif
- dapat mengidentifikasi permasalahan yang timbul di kelas, sekaligus mencari solusinya.
- dapat digunakan untuk menyusun program peningkatan efektivitas pembelajaran IPS pada tahap berikutnya.
b. siswa
- dapat meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan soal yang berkaitan dengan peta buta
c. sekolah
- dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran di sekolah tempat dilaksanakan PTK.













II. KAJIAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
PTK atau dalam bahasa Inggris disebut Classroom Action Research (CAR) adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan substantif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri, atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan (Hopkins, 1993: 44 dalam Rochiati, 2007: 11).
Rapoport (1970, dalam Hopkins, 1993) mengartikan PTK untuk membantu seseorang dalam mengatasi secara praktis persoalan yang dihadapi dalam situasi darurat dan membantu pencapaian tujuan ilmu sosial dengan kerja sama dalam kerangka etika yang disepakati bersama (Rochiati, 2007: 11).
Sedangkan Kemmis (1983 dalam Rochiati, 2007: 12) menjelaskan bahwa penelitian tindakan adalah sebuah bentuk inkuiri reflektif yang dilakukan secara kemitraan mengenai situasi sosial tertentu (termasuk pendidikan) untuk meningkatkan rasionalitas dan keadilan dari (a) kegiatan praktek sosial atau pendidikan mereka (b) pemahaman mereka mengenai kegiatan–kegiatan praktek pendidikan ini, dan (c) situasi yang memungkinkan terlaksanannya kegiatan pratek ini.
Ebbut (1985, dalam Hopkins, 1993) mengemukakan penelitian tindakan adalah kajian sistematik dari upaya perbaikan pelaksanaan praktek pendidikan oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan dalam pembelajaran berdasarkan refleksi mereka mengenai hasil dari tindakan-tindakan tersebut (Rochiati, 2007: 12).
Elliot (1991 dalam Rochiati, 2007: 12) melihat penelitian tindakan sebagai kajian dari sebuah situasi sosial dengan kemungkinan tindakan untuk memperbaiki kualitas situasi sosial tersebut.
Kustiani (2005: 3) mendefinisikan PTK sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaikai atau meningkatkan praktek-praktek pembelajaran di kelas secara lebih profesional.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas dapat kita simpulkan beberapa hal penting yang terdapat dalam PTK yaitu:
(1) penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan substantif,
(2) dilakukan dalam disiplin inkuiri reflektif,
(3) untuk memahami apa yang terjadi,
(4) peneliti terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan praktek-praktek pembelajaran di kelas secara lebih professional,
(5) untuk membantu seseorang dalam mengatasi secara praktis persoalan yang dihadapi dalam situasi darurat,
(6) membantu pencapaian tujuan ilmu sosial, dan
(7) ada kerja sama dalam kerangka etika yang disepakati bersama.
Tujuan PTK adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas praktik pembelajaran secara berkesinambungan, sehingga meningkatkan mutu hasil instruksional, mengembangkan keterampilan guru, meningkatkan relevansi, meningkatkan efisiensi pengelolaan instruksional serta menumbuhkan budaya meneliti pada komunitas guru.
PTK digambarkan sebagai suatu proses yang dinamis melalui tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi yang merupakan langkah berurutan dalam satu siklus berikutnya. Akar pelaksanaan PTK digambarkan dalam bentuk spiral tindakkan (adaptasi Hopkins:1993 dalam Aqib 2007:127) sebagai berikut:


Di bawah ini beberapa hal penting yang berhubungan dengan PTK.
1. Arti Penting PTK
PTK sangat penting untuk guru dengan alasan sebagai berikut:
a. PTK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya.
b. PTK dapat meningkatkan kinerja guru
c. Guru mampu memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang dalam terhadap apa yang terjadi di kelasnya.
2. Karakteristik PTK adalah sebagai berikut:
a. Didasarkan pada masalah yang dihadapi guru dalam instrusional
b. Adanya kolaborasi dalam pelaksanaannya
c. Peneliti sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi
d. Bertujuan memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktik instuksional
e. Dilaksanakan dalam rangkaian langkah yang terdiri dari beberapa siklus
f. Pihak yang melakukan tindakan adalah guru sendiri, sedangkan yang melakukan pengamatan terhadap berlangsungnya proses pembelajaran adalah peneliti, bukan guru yang sedang melakukan tindakan.
3. Jenis-jenis PTK adalah sebagai berikut:
a. PTK diagnostik, ialah penelitian yang dirancang dengan menuntun peneliti ke arah suatu tindakan. Dalam hal ini peneliti mendiagnosis dan memasuki situasi yang terdapat dalam latar penelitian.
b. PTK Partisipan, ialah apabila orang yang akan melakukan penelitian, harus terlibat langsung dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian yang berupa laporan.
c. PTK Empiris, ialah apabila peneliti berupaya melaksanakan sesuatu tindakan atau aksi dan melakukan apa yang dilaksanakan dan apa yang terjadi selama aksi berlangsung.
d. PTK Eksperimental, ialah apabila PTK dilaksanakan dengan berupaya menerapkan berbagai teknik atau strategi secara efektif dan efisien di dalam suatu proses pembelajaran.

4. Model-Model PTK
Sebenarnya ada beberapa model yang dapat diterapkan dalam PTK, diantaranya: (1) model Kurt Lewin, (2) model Kemmis dan Taggart, (3) model John Elliot, dan (4) model Dave Ebbut, tetapi yang paling dikenal dan biasa digunakan adalah model Kemmis dan Mc Taggart. Adapun model PTK dimaksud menggambarkan adanya empat tahap yakni sebagai berikut:
1. tahap 1 : Menyusun rancangan tindakan (perencanaan), yang menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa dan bagaimana tindakan tersebut dilaksanakan.
2. tahap 2 : pelaksanaan tindakan, yaitu implementasi atau penerapan isi rancangan di depan kelas.
3. tahap 3 : pengamatan, yaitu pelaksanaan pengamatan oleh pengamat.
4. tahap 4 : refleksi, atau pantulan, yaitu tindakan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah terjadi.

Secara keseluruhan keempat tahapan dalam PTK ini membentuk suatu siklus. Siklus ini kemudian diikuti oleh siklus-siklus lain secara berkesinambungan seperti sebuah spiral.
Namun, sebelum keempat tahapan ini berlangsung, biasanya diawali oleh suatu tahapan pra PTK, yang meliputi: identifikasi masalah, analisa masalah, rumusan masalah, dan rumusan hipotesis tindakan.

5. Sasaran atau obyek PTK adalah sebagai berikut:
a. Unsur siswa: dapat dicermati obyeknya ketika siswa sedang asyik mengikuti prosese pembelajaran di kelas/laboratorium/lapangan/bengkel atau sedang mengikuti kerja bakti di luar sekolah.
b. Unsur guru, dapat dicermati ketika guru sedang mengajar di kelas, sedang membimbing siswa-siswa yang sedang berdarmawisata ,atau ketika guru sedang mengadakan kunjungan ke rumah siswa.
c. Unsur materi pelajaran, dapat dicermati ketika guru sedang mengajar atau sebagai bahan yang ditugaskan kepada siswa.
d. Unsur peralatan atau sarana dan prasarana, dapat dicermati ketika guru sedang mengajar, dengan tujuan meningkatkan mutu hasil belajar yang dapat diamati guru, siswa atau keduanya.
e. Unsur hasil pembelajaran, yang ditinjau dari tiga ranah yang dijadikan titik tinjauan yang harus dicapai melalui pembelajaran, baik susunan maupun tingkat pencpaian.
f. Unsur lingkungan, baik lingkungan siswa di kelas, sekolah maupun lingkungan siswa di rumahnya.
g. Unsur pengelolaan, yang jelas-jelas merupakan gerak kegiatan sehingga mudah diatur, direkayasa dalam bentuk kegiatan.

2.2 Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
IPS adalah salah satu mata pelajaran di SD yang terdiri atas dua bahan kajian pokok yaitu pengetahuan sosial, dan sejarah. Pengetahuan mencakup antropologi, sosiologi, geografi, ekonomi, dan tata Negara. Bahan kajian sejarah meliputi perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lalu hingga masa kini (Kurikulum SD 1994: 85).
Agar pelaksanaan pembelajaran IPS tersebut menjadi pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif dan menyenangkan (PAKEM), salah satu solusinya adalah dengan teknik unjuk kerja.
Di bawah ini beberapa hal penting yang berhubungan dengan IPS di SD.
1. Fungsi
IPS di Sekolah Dasar berfungsi untuk mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan dasar untuk memahami kenyataan sosial yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan pengajaran sejarah berfungsi menumbuhkan rasa kebangsaan dan bangga terhadap perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lalu hingga masa kini.
2. Tujuan
IPS di Sekolah Dasar bertujuan agar siswa mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang berguna bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Pengajaran sejarah bertujuan agar siswa mampu mengembangkan pemahaman tentang perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lalu hingga masa kini, sehingga siswa memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dan cinta tanah air.
3. Pendekatan dan Metode Pengajaran IPS
Dalam pembelajaran guru dapat memilih dan menentukann pendekatan dan metode yang disesuaikan dengan kemampuan siswa, kekhasan bahan pelajaran, sarana dan keadaan siswa.
Beberapa pendekatan dan metode pembelajaran IPS adalah (Kurikulum IPS 1994; 34):
a. Lingkungan
Kegiatan pembelajaran yang mengggunakan pendekatan ini dapat dimulai dari atau mencakup hal-hal (peristiwa) yang pernah dialami dan terdapat dilingkungan siswa.
b. Penemuan (Inkuiri)
Pendekatan ini mendorong dan mengarahkan siswa untuk melinatkan diri secara aktif dalam proses pembelajaran dengan melakukan berbagai kegiatan belajar.
c. Induktif-Deduktif
Pada pendekatam induktif, siswa menarik suatu kesimpulan dari sejumlah fakta yan satu sama lainnya ada hubungan yang diperoleh melalui pengamatan atau cara lain. Sedangkan pendekatan deduktif, mengahadapkan siswa pada sesuatu yang berlaku umum dan mengumpulkan berbagai fakta yang mendukung pernyataan tersebut.
d. Nilai
Pendekkatan ini dapat dikembangkan dari berbagai nilai seperti nilai moral, nilai estetika dan sebagainya.
4. Metode Mangajar
Berbagai metode mengajar IPS seperti: metode pengusaha, metode proyek, metode widyawisata, metode diskusi, metode bermain peran, metode Tanya jawab, metode latihan, metode ceramah, metode pameran, metode permainan, metode cerita dan metode simulasi.
5. Alat Peraga (Media) Pembelajaran IPS
Alat peraga atau media adalah sumber belajar yang harus dikembangkan untuk tercapainya hasil belajar yang optimal. Hal ini seperti apa yang dikatakan Iskandar dan Mustaji (1989) “dalam usaha meningkatkan kwalitas proses pembelajaran dan hasil pembelajaran, kita tidak boleh melupakan suatu yang sudah pasti kebenarannya yaitu bahwa pelajar harus banyak berinteraksi dengan sumber belajar. Tanpa sumber belajar yang memadai sulit diharapkan dapat diwujudkannya proses pembelajaran yang mengarah tercapainya hasil belajar yang optimal.
Atas dasar ini, beberapa alat peraga atau media IPS sangatlah perlu diaplikasikan dalam setiap pelaksanaan pembelajaran IPS di Sekolah dasar. Adapun alat peraga atau media IPS dapat berupa: peta, atlas, globe, planetarium, solar system, gambar-gambar (pahlawan, rumah adat), lingungan sekitar, alat peraga buatan siswa atau guru dan sebagainya.


















III. METODE PENELITIAN
3.1 Objek Tindakan
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Adapun jenis tindakan yang akan diteliti adalah sebagai berikut:
a. aktivitas siswa dalam pembelajaran
b. kemampuan siswa dalam membuat peta sederhana
c. kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal peta buta

3.2 Setting/Objek Penelitian
Setting atau lokasi PTK ini adalah Sekolah Dasar Negeri 4 Sambik Bangkol Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Barat kelas VI dengan jumlah siswa 20 orang, mata pelajaran IPS. Standar kompetensinya adalah (1) Memahami perkembangan wilayah Indonesia, kenampakan alam dan keadaan sosial Negara-negara di Asia Tenggara, serta benua-benua. Adapun Kompetensi Dasarnya (1.3) Mengidentifikasi benua-benua semester 1, tahun pelajaran 2007/2008.

3.3 Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan melalui catatan observasi dan hasil evaluasi yang dilakukan sejak awal penelitian sampai dengan siklus III bersama mitra kolaborasi.
Catatan observasi dipergunakan untuk mengetahui peningkatan aktifitas siswa dalam pembelajaran dan pemunculan keterampilan kooperatif siswa, sedangkan evaluasi dilakukan untuk mengukur peningkatan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal peta buta.
Pada bagian refleksi dilakukan analisis data mengenai proses, masalah dan hambatan yang dijumpai, kemudian dilanjutkan dengan refleksi dampak pelaksanaan tindakan yang dilaksanakan. Salah satu aspek penting dari kegiatan refleksi adalah evaluasi terhadap keberhasilan dan pencapaian tujuan.

3.4 Metode Analisis Data
Data hasil observasi pembelajaran dianalisis bersama-sama dengan mitra kolaborasi, kemudian ditafsirkan berdasarkan kajian pustaka dan pengalaman guru. Sedangkan hasil belajar siswa (evaluasi) dianalisis berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan.









DAFTAR PUSTAKA
Aqip, Zaenal. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Yrama Widya
Kustiani, Lilik. 2005. Hand Out Metode Penelitian Tindakan Kelas. Malang: Universitas Kanjuruhan
Wiriaatmadja, Rochiati. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosda Karya